A
XWAPPER
XWAPPER

Motorola E398 & ROKR E1: Legenda Speaker Stereo dan Jejak Awal iTunes Mobile

Motorola E398 & ROKR E1: Legenda Speaker Stereo dan Jejak Awal iTunes Mobile

Siapa dulu yang pernah memakai HP dengan suara speaker yang keras, dan bangga pamer keras-kerasan suara dengan HP teman?

Anda yang pernah melewati masa pertengahan 2000-an pasti ingat momen ketika ponsel bukan dilihat dari bagus kameranya, melainkan seberapa keras dentuman speakernya.

Masa Kejayaan Speaker Getar

Pada masa itu (pertengahan 2000-an), pasar Indonesia dibanjiri ponsel China yang dibekali pengeras suara luar menggelegar. Tren ponsel dengan volume suara kencang pun meledak; banyak orang merasa bangga saat menenteng perangkat yang mampu bersuara lantang. Sayangnya, ponsel-ponsel tersebut hanya menang di volume suara, namun terdengar cempreng dan pecah di telinga.

Di tengah gempuran HP China yang membanjiri pasar dengan speaker menggelegar, Motorola pun akhirnya muncul membawa standar baru. Motorola seolah berkata: "Kalian mau suara keras? Kami berikan yang berkelas!"

Hadirnya Motorola E398

Sekitar tahun 2004, Motorola E398 muncul membawa terobosan radikal pada masanya yaitu Dual Speaker Stereo 16mm dengan efek haptic (getar). Keunggulannya bukan sekedar volume yang keras, melainkan kualitas suara yang jernih dengan dentuman bass yang nyata. Bahkan, seluruh bodi ponsel akan bergetar mengikuti irama musik, memberikan sensasi audio yang bisa dirasakan secara fisik.

Selain suara yang menggelegar, Motorola E398 menyimpan satu lagi fitur futuristik, yaitu lampu LED di sisi kiri dan kanan bodi yang dikenal sebagai Rhythmic Lights. Lampu ini berfungsi sebagai visualisasi musik sekaligus notifikasi unik saat ada panggilan atau pesan yang terlewat. Keren ya?

Keunikan ini kemudian diwariskan kepada penerusnya, Motorola ROKR E1, pada tahun 2005. Secara fisik, E1 tampak seperti "kembaran" E398 namun dibalut warna putih ikonik dan fitur eksklusif: Integrasi iTunes. Meski bodinya sedikit lebih ramping dari sang "kakak", kedua ponsel ini tetap mempertahankan ciri khas yang sama, yaitu lampu ritmik dan lubang speaker di kedua sisi sampingnya.

Tak hanya di sektor audio, di bagian visual juga ga kalah oke, dua Motorola ini menyematkan kamera VGA (640 x 480 pixel) dengan lampu flash dipadu dengan layar TFT berkedalaman 65.536 warna untuk E398 dan 262.144 warna untuk E1. Hasilnya: kualitas foto yang jernih dan layar yang bening.

Harga Launching E398 dan E1

Berikut daftar harga E398 dan E1 saat diluncurkan:
  • Motorola E398 (Rilis Sekitar Kuartal 2 - 2004). Harga Launching sekitar Rp2.700.000 – Rp3.000.000. Di tahun 2004, harga ini tergolong cukup mahal (setara ponsel kelas menengah-atas). (sumber data: Gemini AI)
  • Motorola ROKR E1 (Rilis Sekitar September 2005). E1 membawa nama besar Apple dengan iTunes-nya, sehingga harganya sedikit lebih tinggi dari pendahulunya. Harga Launching: Sekitar Rp3.200.000 – Rp3.500.000. (Sumber data: Gemini AI)
Wah harganya fantastis ya? Mengalahkan harga HP Android yang kita pakai sekarang. Padahal dari segi fitur dan teknologi masih jauh dibawah Android yang murah sekalipun.

Penulis waktu itu tak berkesempatan membeli unit yang baru, hanya kebagian beli yang seken dengan harga Rp750.000, itu juga uda mahal, tapi kondisi masih mulus dan oke.

Kontroversi iTunes di ROKR E1

ROKR E1 adalah sejarah besar karena merupakan ponsel pertama yang mendukung iTunes sebelum iPhone lahir. Namun, ia memiliki batasan aneh: hanya bisa menampung 100 file mp3, tidak peduli seberapa besar kapasitas kartu memori Anda. Rumornya: Ini taktik pemasaran Apple saat itu agar tidak menyaingi penjualan iPod.

Di balik kemewahan logo iTunes pada Motorola ROKR E1, tersimpan sebuah cerita kekesalan yang khas bagi para penggunanya. Di zaman itu, mengirim lagu via Bluetooth adalah jalan pintas bagi semua pengguna. Sayangnya, bagi pengguna ROKR E1, cara itu tidak berlaku untuk aplikasi pemutar musik utamanya.

Banyak pemakai E1 yang dibuat kesal karena file-file MP3 hasil transfer Bluetooth atau yang sekadar dipindah ke kartu memori tidak akan otomatis masuk ke daftar lagu iTunes. Jika ingin lagu tersebut muncul di pemutar musik ikoniknya, pengguna wajib menghubungkannya ke PC dan melakukan sinkronisasi melalui software iTunes.

Bayangkan situasinya: Di saat teman-teman pengguna HP China atau bahkan pengguna HP lainnya bisa langsung memasukkan file mp3 ke player, sementara pengguna ROKR E1 harus bersabar. Mereka harus pulang dulu, menyalakan komputer yang booting-nya lama, lalu menunggu proses sinkronisasi yang lambat. Iya kalau punya PC, kalau tidak, terpaksa ke warnet atau ke konter ponsel yang ada PC-nya.

Fenomena Modifikasi (Flashing) atau Upgrade Yang Legendaris

Inilah yang memicu lahirnya gerakan modifikasi yang legendaris. Salah satu kelemahan E398 adalah absennya fitur perekam video, namun berkat jasa para opreker, E398 bisa disulap menjadi ROKR E1 melalui proses flashing firmware. Hasilnya E398 bukan hanya bisa merekam video, tapi juga bisa menampilkan iTunes Player.

Lewat racikan software yang sudah dimodifikasi, file MP3 yang masuk ke memori kini bisa langsung terbaca secara otomatis oleh pemutar musik tanpa perlu lagi menyalakan komputer atau lari ke warnet.

E398 dan E1 benar-benar menjadi "Android-nya Java" di masa itu. Layaknya ponsel modern saat ini, pengguna bisa bebas menggonta-ganti skin, ikon menu, hingga font. Jika di era Android kita mengenal istilah Custom ROM, di dunia Motorola kita mengenal MonsterPack (MP) sebagai puncak dari segala modifikasi.

Berikut rincian hasil yang didapat setelah E1 dan E398 di upgrade:
  1. Layar lebih bening.
  2. Icon menu, skin dan font yang berubah dan bisa gonta-ganti.
  3. Kamera lebih jernih.
  4. Output power speaker lebih nendang.
  5. Fitur rekam video dan iTunes untuk E398.
  6. Flashlight (Senter): Lampu LED di cover belakang yang tadinya cuma buat foto, kini bisa dijadikan senter lewat pintasan tombol.
  7. File yang didonlot atau ditransfer via bluetooth langsung masuk ke MMC (Memory Card).
  8. File MP3 langsung tampil di iTunes.
  9. Lampu Ritme (Side Lights) dengan fungsi yang lebih variatif.
  10. Mode pesawat untuk E398.
Di masa itu banyak jasa-jasa flashing dan upgrade Motorola E398 dan E1, dengan biaya yang terjangkau, hanya Rp25.000 anda bisa mendapatkan wajah baru dari Motorola anda.

Hanya saja dampak negatif dari upgrade ini sering menyisakan bug, seperti error pada kamera, batere yang cepat boros, restart mendadak. Tapi Alhamdulillah penulis tidak alami itu semua, yang penulis dapatkan adalah tema, icon menu dan font yang tak sesuai keinginan. Karena firmware sudah terlanjur diganti, mau balik ke setelan pabrik tapi tidak punya cadangan. Jadi ya pasrah saja, atau cari jasa flashing / upgrade lain yang barangkali punya tema yang lebih disukai.

Kini, Motorola E398 dan ROKR E1 mungkin hanya jadi penghuni laci yang berdebu atau rongsokan di sudut gudang. Namun, bagi mereka yang pernah merasakan suara gahar dari speaker stereonya, kedua ponsel ini lebih dari sekadar alat komunikasi. Ia adalah simbol kebanggaan, bukti kreativitas tanpa batas lewat jalur modding, dan pengingat bahwa kualitas suara yang jujur tidak pernah bisa bohong.

Nah, anda pilih mana waktu itu, apakah E398 atau E1, atau tidak sama sekali?

(Difan96)

Posting Komentar